Dijemput Malaikat di Pangkuan Istri
8 08 2008Bersamaan dengan fajar pagi di hari Senin, 8 Juni 632, beberapa saat sebelum Rasulullah saw. wafat, kaum muslimin berbondong-bondong keluar dari rumah masing-masing. Mereka menuju masjid untuk menunaikan shalat shubuh berjamaah. Mereka berbaris dengan rapi di belakang sang imam yang membacakan ayat-ayat suci dengan suara lembut dan syahdu.
Mendengar kesyahduan itu, Muhammad saw. membuka tabir yang terpasang di tempat kediaman Aisyah r.a., tempat tinggal Rasulullah saw. semasa sakit ini. Kemudian beliau membuka pintu menampakkan diri kepada para sahabat.
Karena sangat gembira menyaksikan Rasulullah saw., mereka nyaris menangguhkan shalat hendak keluar dari shaf untuk memberi jalan kepada beliau. Akan tetapi, beliau segera memberi isyarat dengan tangannya supaya mereka tetap pada shafnya masing-masing.
Menyaksikan mereka menunaikan shalat dengan tertib, beliau tersenyum. Saat itu, Anas bin Malik r.a., pelayan beliau, mengatakan: “Saat itu aku melihat Rasulullah saw. dalam penampilan yang sangat baik.”
Setelah itu, Rasulullah saw. masuk kembali ke dalam kamarnya. Para sahabat pun pulang ke rumah masing-masing. Mereka menduga Rasulullah saw. telah pulih kembali kesehatannya.
***
Sekarang beliau kembali pulang ke rumah Aisyah. Meskipun masih merasakan badannya sangat lemah, senang sekali hatinya melihat kaum Muslimin sudah memenuhi mesjid dengan hati bersemarak.
Dipandangnya laki-laki itu oleh Aisyah, dengan kalbu yang penuh pemujaan akan kebesaran orang itu, dan sekarang penuh rasa iba hati karena beliau sakit. Ia ingin sekiranya dapat mencurahkan segala yang ada dalam dirinya untuk mengembalikan tenaga orang itu, mengembalikan hidupnya.
Akan tetapi, kiranya perginya Nabi ke mesjid itu adalah suatu kesadaran batin, yang akan disusul oleh kematian. Setelah memasuki rumah, tiap sebentar tenaganya bertambah lemah juga. Beliau melihat maut sudah makin mendekat. Tidaklah beliau sangsi bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa saat saja lagi.
Beliau minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin. Dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu, beliau mengusapkan air ke wajahnya. Saat itu, ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakar (ayah Aisyah) datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa beliau menginginkannya.
Oleh Aisyah, benda di tangan kerabatnya itu diambilnya. Setelah dikunyah ujungnya sampai lunak, diberikannya siwak itu kepada Nabi. Kemudian dengan itu, beliau menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara dalam sakratulmaut, yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuan Aisyah r.a., beliau menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”
Aisyah berkisah, “Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya. Ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, ‘Ya handai taulan tertinggi dari surga’.”
Kata Aisyah kepada beliau, ‘Engkau telah dipilih [menjadi rasul], maka engkau pun telah memilih [tempat di surga]. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.’
Aisyah bercerita, “Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal….”
*******
Sumber kisah: Muhammad al-Ghazaliy, Fiqhus Sirah (Bandung: Al-Ma’arif, 1985), Bab IX, “Pulang ke Haribaan Allah” dan Muhammad Husaen Haekal, Sejarah Hidup Muhammad (Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), Bagian Ketigapuluh, “Sakit dan Wafatnya Nabi”.












Cerita yang sangat romantis.. Jadi terharu hik.hik…
Btw ada ada blog bagus yang berisi hadist - hadist dzikir dan sufi. Alamatnya di http://hudaya-organization.blogspot.com.
Kisahnya bagus sekali,,,, sangat romantis,,,,
Cerita yang sangat indah dari seseorang yang begitu mulia. Mudah-mudahan saat aku sakaratul maut nanti aku mampu menyebut Asma Allah (Khusnul Khatimah). Amiiiiin